Bincang-Bincang Nihon Buyou-Nihon Shinbuyou Di Fib Uty Bersama Hasuda Ai

Bincang-Bincang Nihon Buyou-Nihon Shinbuyou Di Fib Uty Bersama Hasuda Ai

Kurikulum pendidikan Prodi D3 Bahasa Jepang UTY tidak hanya mengacu pada ketrampilan penguasaan Bahasa Jepang semata, namun juga dirancang dengan berpedoman pada pendidikan karakter yang mengedepankan pemahaman lintas budaya Indonesia-Jepang. Salah satu upaya yang dilakukan dalam hal ini adalah pembekalan soft skill mahasiswa dalam bentuk pemahaman berbagai macam budaya Jepang, di antaranya adalah Chanoyu (upacara minum teh)  dan aneka tarian Jepang yang syarat dengan nilai-nilai filosofi kehidupan.

Jika selama ini pemahaman mahasiswa Prodi D3 Bahasa Jepang UTY mengenai tarian Jepang baru terbatas pada Bon Odori (tarian festival musim panas), yosakoi (tarian rakyat yang asal mulanya untuk mengembalikan aktivitas perdagangan di Kochi akibat keterpurukan setelah PD ke-2), dan Shooran Bushi  (tarian yang melambangkan semangat kerja para nelayan) saja, maka untuk menambah soft skill mahasiswa Prodi D3 Bahasa Jepang UTY tentang wawasan tarian Jepang, pada hari Rabu tanggal 4 Juli 2012 bertempat di gedung timur kampus FIB UTY, Prodi D3 Bahasa Jepang UTY mengundang penari tradisional Jepang (Nihon Buyou) Hasuda Ai yang sudah berkompeten dalam menciptakan tarian kontempoter Jepang (Nihon Shinbuyou) untuk berbagi pengalaman tentang Nihon Buyou-Nihon Shinbuyou.

Acara dibuka dengan persembahan dua buah tarian Jepang, yaitu Nihon Buyou atau tarian tradisional Jepang yang mengisahkan sebuah cerita dan Nihon Shinbuyou atau tarian kontemporer Jepang yang digubah dari Nihon Buyou. Setelah pertunjukkan tarian selesai, mahasiswa prodi D3 Bahasa Jepang UTY diminta untuk menganalisis perbedaan dua buah tarian yang baru saja disajikan tersebut dilanjutkan dengan bincang-bincang seputar Nihon Buyou-Nihon Shinbuyou (tarian Jepang tradisional-kontemporer). Banyak hal yang dapat diungkap dari hasil analisis dan perbincangan tersebut, misalnya tentang cerita yang ada di balik tarian; alasan wajah penari Jepang yang tanpa merubah ekspresi  pada saat menarikan tarian tradisional Jepang (pada awalnya penari Nihon Buyou selalu mengenakan topeng sehingga ekspresi wajah penari menirukan ekspresi topeng yang selalu sama); aneka perbedaan gerakan yang melambangkan tokoh laki-laki dan perempuan yang dimainkan oleh penari; aneka peralatan yang dibawa penari seperti kipas, suling, gendang, dan lain-lain; hingga perbedaan tingkat kesulitan tarian tradisional Indonesia-Jepang yang dirasakan Hasuda Ai; dan sebagainya. Setelah perbincangan dirasakan cukup, maka untuk menyegarkan suasana, mahasiswa kemudian diajak bersama-sama untuk menarikan Bon Odori yang langsung dibimbing oleh  Hasuda Ai.