DIALOG MONOZUKURI BERSAMA RUSTONO TEMPEH DAN LUISA VELEZ DI FIB UTY

DIALOG MONOZUKURI BERSAMA RUSTONO TEMPEH DAN LUISA VELEZ DI FIB UTY

Rustono (43), seorang WNI asal Grobogan Jawa Tengah yang telah sukses membangun pabrik tempe di Kyoto, Jepang sehingga kemudian namanya lebih dikenal menjadi Rustono Tempeh, menjadi pembicara utama dalam Dialog Monozukuri dengan tema “Ide Sederhana Berdampak Luar Biasa” pada hari Jumat, 28 September 2012 di Ruang Studio Kampus 3 FIB Universitas Teknologi Yogyakarta, Jl.Prof.Dr.Soepomo SH No.21 Yogyakarta. Dengan didampingi staf ahli Menteri Negara Urusan Koperasi dan UKM Bapak Muhammad Taufik, dalam dialog tersebut, tampil juga Luisa Velez (31), seorang Warga Negara Mexico yang merupakan seorang ahli nutrisi spesialisasi fermentasi dan telah mengkreasikan tempe dalam aneka jenis di Mexico.

Pada kegiatan yang dihadiri oleh sekitar 80 peserta yang mayoritas mahasiswa Program Studi D3 Bahasa Jepang UTY dan juga tamu undangan dari perwakilan mahasiswa Stikes, UNY, UGM, serta LSM, Rustono berbagi pengalaman hidupnya dalam membangun impiannya menjadi seorang profesional tempe mulai 14 tahun lalu di Jepang yang dikenal sebagai sebuah negara dengan sistem penjaminan mutu yang tinggi (high quality control). Tidak semua barang dapat masuk apalagi diproduksi di Jepang. Ada beberapa syarat yang perlu diperhatikan saat membuat barang (hand made) di Jepang, yang dikenal dengan istilah monozukuri. Untuk memperoleh izin produksi di Jepang, dia harus melalui penelitian dan tes di laboratorium hingga harus memenuhi kesanggupan bertanggung jawab atas kualitas dan kandungan bahan produksi sesuai dengan yang tertera di kemasan bahwa kandungan gizi tempe kedelai setara dan kandungan gizi daging, termasuk mematuhi peraturan daur ulang kemasan.

Sadar akan standard Jepang tersebut, sebelum mewujudkan impiannya menjadi seorang profesional tempe,  Rustono tidak langsung membuat tempe dan memasarkannya di sana. Dengan dukungan sang istri yang merupakan seorang Warga Negara Jepang, yaitu Tsuruko Kuzumoto, dia memulai mewujudkan cita-citanya tersebut dengan bekerja selama 3 tahun untuk mengumpulkan modal dan mencari pengalaman bekerja di pabrik roti dan sayuran. Karena bekerja di pabrik makanan bukanlah suatu tujuan, namun hanya suatu bagian dari proses yang diyakininya, Rustono selalu mengamati etos kerja karyawan Jepang dalam mencapai target dan ikut serta dalam menjaga kualitas produksi makanan. Untuk memaksimalkan pengalamannya, ia bekerja tidak hanya pada hal-hal yang diperintahkan saja sehingga dia bisa dekat dengan pemilik pabrik bahkan dapat menggali banyak ilmu dari mereka.

Setelah dirasa cukup dalam mengumpulkan modal dan mengamati proses memproduksi makanan di pabrik Jepang, Rustono baru mencoba membuat tempe selama 4 bulan namun selalu gagal sehingga dia memutuskan untuk belajar langsung dari 60 dari 100 pengrajin tempe di tanah air yang ditemuinya.  Sekembalinya ke Jepang dan melewati masa-masa trial and error sehingga akhirnya berhasil membuat tempe, ternyata berjualan tempe di Jepang bukanlah sesuatu yang mudah karena orang Jepang tidak dapat begitu saja menerima sesuatu yang baru dikenalnya. Meskipun demikian, Rustono tidak kenal lelah door to door menawarkan tempe buatannya sehingga kerja kerasnya tersebut menarik perhatian seorang wartawan yang kemudian memasukkan tulisan ¼ lembar halaman tentang tempe dan ¾ lembar halaman lainnya tentang perjuangan, semangat, dan impian Rustono.   Setelah tulisan tentang tempe dan dirinya masuk koran, tempat-tempat yang awalnya menolak tempe buatannya justru mulai saat itu ramai-ramai memesan tempe buatannya sehingga kini tempe buatannya dapat dijumpai di 490 titik penjualan yang tersebar di berbagai kota di Jepang dengan merk Rusto’s Tempeh.

Pada akhir dialog, untuk para mahasiswa khususnya, Rustono berpesan bahwa tempe hanyalah contoh suatu produk. Produk dapat berupa apa saja dan cara untuk menggerakkan produklah yang paling penting sehingga dibutuhkan suatu impian yang teguh. Dengan mimpi yang teguh maka akan dapat menimbulkan energi ekstra dalam upaya meraihnya. Cara paling sederhana adalah mulai dari hal-hal kecil yang dapat dilakukan. Jika satu cara gagal, maka harus dicoba cara lainnya dengan tetap meneguhkan impian yang hendak dicapai.