UTY Aktif Dalam Intercultural Regional Conference

Setiap komunitas tertentu dipastikan memiliki wujud-wujud kebudayaan yang khas atau biasa disebut dengan Cultural Cores, demikian disampaikan oleh Dr. R. J. Radjaban, M Hum. Kaprodi Sastra Inggris Fakultas Ilmu Budaya Universitas Teknologi Yogyakarta (UTY) dalam makalahnya yang berjudul Cultural Cores and the Importance of Cummunal Faith in Agabag North Borneo yang disampaikan pada Konferensi Regional Asia Oceania (AORC) di Ruang Sidang Wisma De Mazenod Condongcatur Yogyakarta pada tanggal 24 – 27 Februari 2014. Panitia konferensi dari AORC (Asia Oceania Regional Conference) kali ini mengambil tema Understanding Culture for Better Interfaith Dialogues dan sepakat untuk belajar dari kebudayaan-kebudayaan asli Indonesia yang memiliki keragaman dan keunikan yang tidak ada duanya di dunia. Konferensi yang diselenggarakan selama 5 hari di Yogyakarta ini mencoba menggali pengalaman bangsa Indonesia dalam mengelola kebudayaan asli untuk tujuan pelestarian budaya asli sebagai identitas bangsa yang menghidupi.

Disamping pembicara dari Jepang, Korea, Cina, Filipina, Pakistan, India, Myanmar, Thailand, Kamboja dan Laos, pada kesempatan konferensi kali ini dua pembicara dari Indonesia berbagi pengalaman tentang dua budaya besar yakni tentang budaya Jawa dan Dayak. Dr. A. Budi Laksono, S.J. seorang pakar sejarah kebuadayaan Jawa berbicara tentang kreativitas kebudayaan Jawa dalam beradaptasi dengan dinamika modernitas dan Dr. R. J. Radjaban, M Hum, pakar linguistik yang juga pemerhati Dayak Kalimantan Utara menyampaikan uraian tentang praktik-praktik kebudayaan Masyarakat Dayak Agabag di Kalimantan Utara dalam mewujudkan keyakinan komunal. Radjaban menyampaikan bahwa masing-masing komunitas memiliki praktik-praktik kebudayaan asli yang secara efektif dan efisien mampu membentuk keyakinan komunal dalam beradaptasi diri terhadap derasnya dinamika modernitas. Masyarakat Adat Dayak Agabag di Kalimantan Utara mengandalkan keyakinan komunal untuk menghidupi diri dan alam dengan mengandalkan praktik-praktik kebudayaan asli tanpa terpengaruh dinamika kebudayaan moderen, demikian disampaikan Radjaban lebih lanjut. Konferensi budaya tahunan AORC yang diselenggarakan pada setiap bulan Februari ini rencananya akan kembali diselenggarakan di Korea pada tahun 2015.

Keterangan Gambar :

1. Dr. R. J. Radjaban, M Hum. sedang presentasi

2. Dr.R.J. Radjaba, M Hum  di sela-sela Asia-Oeania Regional Conference