PPBM, Teknologi Baru Minimalisir Korban Gempa

Prof. Dr. Mikiro sedang Presentasi di UTY

Dr. Dr. Numanda Muneyoshi sedang Presentasi di UTY

Jepang merupakan negara yang dikenal rawan gempa bumi. Majunya riset di negara tersebut telah memunculkan teknologi baru dalam meminimalisir dampak / korban gempa bumi bagi manusia yang dinamai Poly Propylene Band Mesh (PPBM). Teknologi baru hasil riset mendalam yang dipelopori oleh Prof. Dr. Kimiro MEGURO Director International Center for Urban Safety Engineering Institute of Industrial Science, The University of Tokyo, yang juga menjabat sebagai President of Japan Society of Earthquake Engineering tersebut diperkenalkan pada acara seminar bertajuk, “Strategi Membangun Rumah Aman Gempa dengan Teknologi Baru” yang diselenggarakandan oleh Forum Mahasiswa Arsitektur (FORMA) UTY dan Himpunan Mahasiswa Jurusan Teknik Sipil (HMJTS) UTY. Seminar yang diselenggarakan di Kampus 1 UTY 13 Februari 2016, diikuti 300 peserta, terdiri dari Dosen dan Mahasiswa UTY, serta peserta dari berbagai perguruan tinggi di DIY dan Jateng. Hadir sebagai pembicara Prof. Dr. Kimiro MEGURO dan Dr. Numanda Muneyoshi dari University of Tokyo. Selain itu juga menghadirkan pembicara dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), PUSKIM (Pusat Penelitian dan Pengembangan Pemukiman) Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat RI, dan akademisi dari UII.  

Peserta menyanyikan lagu Indonesia Raya sebelum seminar dimulai

Peserta menyanyikan lagu Indonesia Raya sebelum seminar dimulai bersama Tim Paduan Suara UTY

Dalam paparannya Dr. Numanda menyampaikan bahwa sampai saat ini belum ada teknologi yang bisa mendeteksi kapan akan terjadinya gempa bumi dan seberapa besarnya. Sehingga upaya bagi mereka yang tinggal di daerah rawan gempa seperti di Jepang dan Indonesia, adalah bagaimana meminimalisir dampak dari gempa bumi tersebut. Ia menyampaikan bahwa riset membuktikan, 75% korban gempa bumi adalah orang-orang yang tertimpa bangunan. Iapun  memaparkan dahsyatnya kerusakan gedung-gedung akibat gempa yang terjadi di Kathmandu Nepal (2015), Jepang (2011), Haiti (2010), China (2008, Bantul – Indonesia (2006), Aceh – Indonesia(2004) dan gempa – gempa lain sebelumnya sampai tahun 1915.

Dalam kesempatan itu Dr Nurmanda menyampaikan bahwa sebenarnya sampai saat ini telah banyak riset tentang upaya meminimalisir dampak dari gempa. Namun menurutnya kebanyakan peneliti dan para ahli teknis cenderung menggunakan teknologi maju dan baru, tanpa mempertimbangkan kondisi dan situasi lokal. Ia menegaskan bahwa kata kuncinya adalah ketersediaan dan kemampuan penerapan masyarakat lokal, yakni dari aspek teknis, memungkinkan ketersediaan bahan pada masyarakat setempat  dan metode pengaplikasiannya mudah atau tidak memerlukan keahlian spesifik. Sedangkan dari aspek sosial secara ekonomi dapat dijangkau, dan secara sosial dapat diterima dengan baik tanpa harus merubah pola kehidupan lokal.

Peserta seminar mengikuti tutorial pemasangan tali

Peserta seminar mengikuti tutorial aplikasi PP Band Mesh pada dinding simulasi.

Sementara itu Prof, Kimiro MEGURO menjelaskan teknologi retrofitting dengan Poly Propylene Band Mesh (PPBM).  Ia mengatakan, PP Band Mesh merupakan teknologi untuk memberi penguat pada dinding bangunan atau tembok gedung dengan menggunakan tali berbahan plastik Poly Propylene sebagai pengikat dinding bangunan agar tidak runtuh saat gempa.  Menurutnya dipilihnya Poly Propylene yaitu suatu jenis plastik yang biasa digunakan tali dalam dalam pengemasan tekstil, karpet, kardus, dll tersebut, karena bahan tersebut mudah didapatkan hampir di seluruh negara di dunia. Selain mudah didapatkan, tali yang biasa untuk pengikat barang tersebut sangat kuat dan bisa menahan beban berat.  Adapun secara teknis penerapan teknologi hasil riset dari tim studi kegempaan University of Tokyo ini adalah Plastik Poly Propylene (PP) dianyam ke dinding kemudian direkatkan seperti disolder. Menurutnya teknologi ini sangat sederhana dan dapat diterapkan pada bangunan yang sudah jadi ataupun pada bangunan yang sedang dibangun.  Dalam kasus bangunan sudah berdiri maka langkah pertama adalah membuat lubang-lubang di dinding dengan pola untuk anyaman plastik. Selanjutnya merekatkan Plastik PP dengan anyaman segi empat dan menyolder agar menjadi jala penahan dinding saat terjadi gempa. Setelah terpasang maka dilanjtkan dengan pelapisan sebagaimana yang bisa dilakukan pada pembuatan dinding.

Dalam kesempatan itu Prof. Kimiro MEGIRO juga memberi tutorial bagaimana mengaplikasikan PP Band Mesh untuk dinding bata kepada para peserta seminar. Selain itu juga menunjukkan eksperimen dari tim studi kegempaan University of Tokyo berupa model bangunan berdinding bata baik yang diberi PP Band Mesh dan tidak yang diletakkan di meja getar. Hasilnya, bangunan yang dipasang PP Band Mesh tidak mengalami kerusakan sementara bangunan yang tidak dipasang PP Band Mesh langsung runtuh.

Dalam sambutannya, Dr. Endy Marlina, MT, Dekan Fakultas Sains dan Teknologi UTY menyampaikan bahwa Riset dan teknologi terkait kegempaan di Jepang sangat maju. Sehingga ia mengungkapkan kebanggaannya kepada mahasiswa yang telah menyelenggarakan seminar yang bergengsi ini. Ia berharap para peserta dapat menambah khasanah pengetahuan teknologi tepat guna dalam meminimalisir dampak gempa langsung dari sumbernya. Di sisi lain baik Dr. Numanda maupun Prof. Kimiro MEGIRO sangat salut dengan Mahasiswa UTY yang sangat aktif menanggapi paparan materi yang mereka sampaikan.