PPL Akuntan di UTY, Bahas Pengelolaan KJA dan KAP

PPL Akuntan di UTY, Bahas Pengelolaan KJA dan KAP
 

Sesi kedua kegiatan Pendidikan Profesional Berkelanjutan (PPL) Akuntan yang diselenggarakan di Universitas Teknologi Yogyakarta, Jum’at 18 Maret 2016, mengupas materi Pengelolaan Kantor Jasa Akuntansi (KJA) dan Kantor Akuntan Publik (KAP), dengan narasumber Theodorus M. Tuanakotta, Anggota Kehormatan Institut Akuntan Publik Indonesia (IAPI). Kehadiran Tuanakota yang biasa disebut ‘Begawan Auditing Indonesia’ tersebut menjadi daya tarik tersendiri bagi para peserta, mengingat pengalaman suksesnya menjadi akuntan publik ternama di Indonesia dengan banyak karya termasuk buku-buku Auditing-nya yang menjadi acuan pengajaran pada Jurusan Akuntansi Perguruan Tinggi di Indonesia.

Materi Pengelolaan KJA dan KAP tersebut dijelaskan Tuanakotta secara gamblang, dengan cara membagi materi dalam bentuk modul-modul mulai dari planning, practice models & networks, building and growing your fiirm, people power, technology & e-business, sampai  client relationship management.  Tuanakotta menyanpaikan bahwa materi yang dipresentasikan tersebut diambil dari publikasi IFAC  berjudul Guide to Practice Management for Small and Medium Sized Practices, yang dapat diakses secara umum.

Paparan materi tersebut menjadi sangat menarik dan jelas, karena Tuanakotta merangkumnya dengan berbagi pengalaman dirinya mernjadi akuntan profesional. Rangkuman pengalaman yang diberi judul “Napak Tilas 35 Tahun” pengalamannya berkarya sebagai akuntan profesional mulai tahun 1969 sampai dengan 2004, ia sampaikan secara runtuty di forum tersebut.

Theodorus M. Tuanakotta melayani dan menjawab pertanyaan para peserta PPL Akuntan dengan penuh perhatian dan kesabaran

Theodorus M. Tuanakotta melayani dan menjawab pertanyaan para peserta PPL Akuntan dengan penuh perhatian dan kesabaran

Dalam kurun waktu tersebut Tuanakotta membagi menjadi 4 fase. Fase pertama adalah fase Terbesar mulai tahun 1969-1978. Pada tahun tersebut ia bergabung dengan KAP SGV yang berkolaborasi dengan kantor-kantor akuntan publik besar dunia sekelas EY, PW, dan Arthur Andersen. Pada masa itu, ia biasa mengaudit perusahaan-perusahaan besar multi nasional dan asing termasuk PT. Caltex.  Fase kedua adalah Terkecil, yakni pada tahun 1978. Pada saat itu ia membuka sendiri Kantor Akuntan Publik dengan kantor seluas 5 x 6 meter persegi di Gedung Sarinah Jakarta. Fase Terkecil tersebut berjalan sangat singkat yakni hanya 1 tahun, yang merupakan masa perenugan dan memutuskan untuk total menjadi akuntan publik.  Fase ketiga adalah fase 2 partner yakni tahun 1978 -1990. Dan fase keempat adalah Fase Terindah, pada tahun 1990 – 2004 dimana ia mengkolaborasikan dengan beberapa partner dan membina beberapa penerus. Iapun memutuskan untuk berhenti sebagai  akuntan profesional sebelum umur 60 tahun.

Mengutip pendapat dari Arthur Levit, Tuanakotta menyampaikan bahwa dalam semua unit bisnis, ‘customer is always right’. Namun tidak demikian dalam dunia akuntan publik. Meski sudah dibayar oleh perusahaan untuk menjalankan profesinya, sangat dimungkinkan akuntan memberikan pendapat yang tidak sesuai dengan harapan perusahaan.  Begitu pula terkait dengan branding. Menurut Tuanakotta branding cocok untuk produk, dan kurang cocok bagi profesi termasuk profesi akuntan publik. 

Sedangkan terkait dengan people power, Tuanakotta menyampaikan bahwa SDM merupakan aset terbesar bagi KJA dan KAP. Sehingga akan menjadi permasalahan tersendiri jika perusahaan KJA dan KAP mengalami turnover karyawan yang tinggi. Terkait dengan itu pula Tuanakotta menyampaikan leadership style yang memungkinkan kinerja organisasi optimal dan karyawan merasa betah kerja di perusahaan. Adapun leadership style yang disampaikan Tuanakotta, pertama pemimpin harus visioner. Kedua pemimpin harus coaching atau membimbing. Ketiga adalah affiliative atau bisa merasakan kesulitan yang dialami anak buah. Keempat adalah demokratik. Dan kelima adalah comanding atau bisa memberikan komando.