M. Jusuf Wibisono (PwC Indonesia): Hadapi MEA dengan Quality Human Capital

M. Jusuf Wibisana, MAcc, CPA sedang presentasi di UTY

M. Jusuf Wibisana, SE, MAcc, Akt,CA, CPA sedang presentasi di UTY

“Kualitas Human Capital (HC) menentukan kesiapan suatu negara menghadapi dan memenangkan masyarakat ekonomi global. Karena Human Capital yang berkualitas bisa menciptakan produk dan jasa yang berkualitas melalui berbagai inovasi”.Hal itu disampaikan M Jusuf Wibisana, SE, MAcc, Akt, CA,CPA Partner Kantor Akuntan Publik (KAP) Tanudiredja, Wibisana, Rintis dan Rekan dari PricewaterhouseCoopers (PwC) Indonesia, pada acara Seminar Nasional Akuntansi yang diselenggarakan oleh Himpunan Mahasiswa Akuntansi (Himasi) Universitas Teknologi Yogyakarta (UTY). Pada seminar yang diselenggarakan di Kampus 1 UTY tanggal 9 April bertema “MEA: Peluang dan Tantangan Bagi Akuntan” tersebut, M Jusuf Wibisana memaparkan materi berjudul “Human Capital Competitiveness In ASEAN Community”.

Dalam paparannya, M Jusuf Wibisana salah satu Partner KAP yang tergabung dalam PwC yang merupakan kantor jasa akuntansi terbesar dunia saat ini, menyampaikan bahwa  sebenarnya pergerakan Human Capital (HC) dan modal sudah terjadi sejak lama. Pemberlakuan MEA 2015 dengan ditandatanganinya ASEAN Mutual Recognition Arrangement (MRA), menjadi penegasan lebih lanjut atas desakan dan tuntutan tak terelakkan untuk bersaing secara global.

Mahasiswa Akuntansi UTY menyimak paparan M Jusuf Wibisana, SE, MAcc, Akt, CA, CPA

Mahasiswa Akuntansi UTY menyimak paparan M Jusuf Wibisana, SE, MAcc, Akt, CA, CPA

Pada awal paparannya ia menyampaikan fakta yang memprihatinkan dalam pergerakan tenaga kerja Indonesia saat ini. Ia menunjukkan data bahwa secara umum kualitas HC Indonesia masih dapat dikatakan rendah. “Ekspor” HC Indonesia masih didominasi oleh tenaga kerja untuk pembantu RT, buruh bangunan, dan karyawan tingkat bawah yang lain. Sementara banyak tenaga asing masuk ke Indonesia dengan kualifikasi di tingkat menengah ke atas, tuturnya. Ia menambahkan, di sisi lain Indonesia masih membutuhkan bantuan modal asing dalam jumlah besar, sehingga pasca krisis global beberapa dekade lalu terjadi perpindahan kepemilikan banyak aset strategis nasional ke asing. Ia mencontohkan banyaknya bank-bank nasional kini berpindah kepemilikan ke orang-orang asing dan kemudian berganti nama.

Terkait dengan profesi akuntansi di era MEA, M.Jusuf Wibisana mengungkapkan bahwa di tahun 2016 ini nuansanya pergerakan HC bidang akuntansi dan persaingan global di Indonesia sudah sangat terasa. Jumlah akuntan publik yang masih minim di Indonesia menjadi pasar tersendiri bagi akuntan publik dari negara asing. Menurutnya kunci utama dalam menghadapi MEA agar tidak tergusur oleh akuntan asing adalah meningkatkan kualitas Human Capital (HC) dengan meningkatkan kompetensi diri bagi para akuntan Indonesia. “Kesuksesan dalam memenangi pasar terbuka/global sangat tergantung kualitas HC. Proteksi akuntan dan profesi lain di dalam negeri dengan menggunakan aturan dan tarif-tarif tidak akan efektif lagi di era global saat ini, apalagi di masa mendatang”, jelasnya.

Pada kesempatan itu ia memuji upaya UTY dalam mendorong mahasiswanya untuk lebih siap dalam menghadapi persaingan era global saat ini dengan kerjasama yang luas dengan berbagai lembaga internasional termasuk jaringan kantor akuntan publik. Dalam memberikan motivasi kepada mahasiswa, ia menegaskan bahwa faktor penentu sukses tidaknya generasi muda calon-calon akuntan dalam berkarier di era global adalah kompetensi diri. Untuk itu ia sangat berpesan “Jangan buang waktu percuma di masa muda. Kuatkan kompetensi akuntansi Saudara, dan kuasai bahasa Inggris sebagai bahasa bersaing global.”

Pembicara lain dalam seminar tersebut adalah Prof. Emita Wahyu Astami, PhD, dosen tetap prodi Akuntansi UTY, Krisnanto Adi Nugroho, SE,MSi,Ak,CA Auditor BPK-RI, dan Yanti Sutinah, SE, MM Alumni UTY yang kini menjadi Sekretars di Bank Indonesia Yogyakarta. Seminar ini diikuti oleh dan mahasiswa UTY khususnya dari prodi Akuntansi.