Filologi Untuk Menjaga Harkat Kemanusiaan Manusia Moderen

Prof. Mislav Ježić sedang memberikan kuliah umum bagi mahasiswa Faultas Ilmu Budaya  UTY

Prof. Mislav Ježić sedang memberikan kuliah umum bagi mahasiswa Faultas Ilmu Budaya UTY,, dipandu Dr. RY Radjaban

“Secara umum manusia moderen yang cenderung berorientasi material, eksploratif, dan destruktif” kata  Prof. Mislav Ježić dari University of Zagreb Croatia, dalam kuliah umum yang diselenggarakan di kampus 2 UTY Jl Glagahsari,  Pada kesempatan itu Prof Mislav yang dikenal kepakarannya dalam bidang Filologi, terutama filologi terkait dengan India seperti Ramayana, Mahabharata dan Karya Sastra Klasik India lainnya, berharap dan mendorong pada generasi modern saat ini untuk lebih mampu mengendalikan diri dengan melihat prioritas hidup melalui kajian filologi naskah-naskah lama baik dari timur maupun barat. Hal ini mengingat kajian filologi memberikan wawasan mendasar soal harkat kemanusiaan yang mestinya tidak boleh dikorbankan atas alasan apapun. Dengan kata lain menggunakan Filologi untuk menjaga harkat kemanusiaan manusia moderen. Ia menegaskan bahwa konteks jaman sekarang sangat jelas, secara umum masyarakat lebih mementingkan kualitas dan kuantitas hasil karya manusia, yang mestinya tidak lebih berharga dari manusia itu sendiri.

Pada kesempatan tersebut, Prof. Mislav Ježić menyampaikan contoh kasus dari kisah Ramayana yaitu integritas Barata saudara Rama dari ibu selir yang menolak dikukuhkan jadi Raja karena dia merasa tidak berhak menjadi raja. Contoh lain adalah rasa hormat Rama akan pentingnya memegang janji. Karena ayahnya telah berjanji untuk memenuhi permintaan ibunda Barata, maka ketika ibunya meminta Rama meninggalkan kerajaan dan dibuang di hutan selama 14 tahun, Rama tidak menolak. Janji haruslah ditepati. Maka ketika Barata menyusulnya untuk memintanya kembali ke kerajaan Ayodya, Rama menolak karena dia harus menepati janji ayahnya. Karena Barata tetap tidak mau menjadi Raja dan Rama juga tidak mau melanggar janji maka dia memberikan kasutnya sebagai lambang kehadirannya sebagai Raja Ayodya selama 14 tahun pengasingan supaya tidak terjadi kekosongan pemerintahan di kerajaannya. Dari contoh kasus tersebut dapat dipelajari bahwa jalan terbaik untuk menyelesaikan permasalahan hidup haruslah tidak boleh mengesampingkan nilai-nilai luhur kemanusiaan.

Dari sisi filologi, ia menyampaikan bahwa Yogyakarta memiliki kekayaan berupa naskah kuno yang sangat berlimpah, Naskah-naskah tersebut mestinya menjadi aset berharga bangsa untuk dapat dijadikan rujukan dalam menegakkan harkat dan martabat kemanusiaan dan memberikan arahan akan kebijakan pemerintah dalam menempatkan prioritas pembangunan yang lebih menghormati harkat dan hakikat kemanusiaan di zaman moderen ini, tambah Prof. Mislav Ježić