Pendidikan Berkualitas dan Terjangkau, Butuh Komitmen Kuat Stake Holder

Prof. Dr. Mariani Md Nor sedang presentasi di The Fifth ISQAE 2016

Prof. Dr. Mariani binti Md Nor sedang presentasi di Planary Session The Fifth ISQAE 2016

Kegiatan The Fifth International Seminar on Quality Affordable Education / ISQAE 2016 yang berlangsung di The Sahid Rich Hotel Yogyakarta  7-8 Desember 2016, berupa kegiatan Planary Session dan Paralel Session. Planary Session hari kedua, diisi narasumber  Prof Dr. Urbanus Naharya Direktur Pasca Sarjana Universitas Negeri Manado,  Prof. Mariani binti Md Nor Dekan Fakulti Pendidikan University of Malaya Malaysia, Prof Dr. Andrian David Cheok Director of Imagenering Institute – Great Britain, dan Dr. Andri Syamsuri, Dekan FKIP Unismuh Makasar.

Dari kiri : Prof  Dr. Urbanus Nararya, Prof. Dr. Mariani binti Md Nor,  Dr. Andri  dan Prof. Andrian

Dari kiri : Prof Dr. Urbanus Naharya, Prof. Dr. Mariani binti Md Nor, Dr. Andri Syamsuri, Prof. Andrian David Cheaok dan Moderator Dr. RJ Rajaban, MHum

Dalam paparannya Prof Urbanus menyampaikan bahwa Indonesia yang begitu luas memiliki beragam tingkat kemudahan masing-masing wilayah dalam mengakses pendidikan yang berkualitas.  Secara spesifik ia menyampaikan bahwa di  Sulawesi Utara, khususnya di Manado dan sekitarnya yang kondisi geografis/alamnya berpulau-pulau memiliki hambatan besar dalam mengakses pendidikan yang berkualitas dan terjangkau. Prof Urbanus mencontohkan bahwa banyak siswa Sekolah Dasar (SD) yang harus berjalan lebih dari 2 kilometer untuk sampai ke sekolahnya. Kondisi lebih memprihatinkan lagi pada tingkat SMP dan SMA, dimana saat ini banyak yang harus menempuh perjalanan lebih dari 2 jam dengan menyeberang laut.  Prof. Urbanus meyakini jika ada kemauan dan komitmen yang kuat dari pemerintah daerah dan pusat, maka seharusnya mereka dapat bersekolah tanpa harus bersusah-payah sebagaimana yang terjadi saat ini. Karena sebenarnya Sulawesi Utara memiliki kekayaan alam yang melimpah.

Sementara itu Prof. Mariani binti Md Nor menyampaikan bahwa landasan filosofis dan komitmen untuk menyediakan pendidikan yang berkualitas dan terjangkau merupakan hal yang pertama kali yang harus dikuatkan oleh para stake holder. Ia menegaskan bahwa menyelenggarakan pendidikan berkualitas adalah tidak murah dan tidak mudah. Selain perlu prosedur dan tenaga profesional, biaya penyelenggaraannya juga tinggi. Namun dengan landasan filosofis yang kuat maka hambatan termasuk guncangan/krisis ekonomi tidak akan menghentikan upaya untuk menyediakan pendidikan yang murah dan berkualitas. Landasan filosofis ini juga akan memunculkan inovasi untuk mengatasi hambatan, diantaranya dengan menciptakan dan mengembangkan networking dan joint program.  Melalui forum ISQAE ini pula ia menyampaikan bahwa University of Malaya menawarkan kerjasama kepada para peserta ISQAE guna menciptakan pendidikan yang berkualitas dan murah.

tiga ratus peserta mengikuti ISQAE 2016 di The Sahid Rich Hotel

tiga ratus peserta mengikuti ISQAE 2016 di The Sahid Rich Hotel

Dari pengalamannya dalam melakukan uji kompetensi guru (UKG),  Dr Andri Syamsuri menyampaikan bahwa perlu tindak lanjut yang tepat sesudah pelaksana UKG. Ia menyampaikan bahwa saat ini masih ada disparitas / perbedaan kompetensi guru yang sangat mencolok. Ia menyebutkan hasil UKG beberapa waktu lalu menunjukkan mayoritas guru memiliki nilai uji kompetensi dibawah rata-rata, khususnya dari Indonesia bagian timur.

Sedangkan Prof Andrian, yang merupakan alumni Harvard University, jurusan Electric Engineering tersebut menyampaikan bahwa pendidikan yang berkualitas dan terjangkau bisa dilakukan dengan melakukan digitalisasi. Kehadiran guru dan tempat test dapat dikurangi dengan adanya penyiapan materi ajar dan proses ajar dalam bentuk digitalisasi. Dalam paparannya ia mencontohkan beberapa produk IT yang inovatif yang dapat digunakan dalam meningkatkan kualitas pendidikan. Diantaranya adanya model jaket afeksi. Jika dipakai seperti dipeluk ayah guru atau ayahnya. Andrian menyampaikan bahwa indera perasa, pengecap dan pendengaran bisa digitalisasi.  Saat ini ia sedang aktif melakukan penelitian-penelitian digitalisasi indera manusia. Ia meyakini, jika penelitian dan pengembangan produk ini berhasil maka akan sangat bermanfaat bagi mereka yang memiliki keterbatasan panca indera atau bahkan anak-anak berkebutuhan khusus, misalnya autisme.