Banyak Alumni FIB UTY Sukses Jadi Penulis Novel Best Seller

Para pembicara Workshop  dari kiri Saiful Caahyadi, Esti Nuryani Kasam, Paulonna Bernadetta Rotty, Lucky Damayannti, dan Sazsy Wiyani memaparkan pengalaman dan tips menjadi penulis novel sukses

Para pembicara Workshop dari kiri ke kanan : Syaeful Cahyadi, Esti Nuryani Kasam, Paulonna Bernadette Rotty, Lucky Damayanti, dan Sazsy Wiyati, sedang memaparkan pengalaman, tips dan tricks penulisan novel, dipandu moderator Dra. TH Ninung Pandamnurani, MHum.

Prodi Sastra Inggris Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Teknologi Yogyakarta (UTY) boleh berbangga, karena banyak alumninya yang telah sukses menjadi penulis buku best seller tingkat nasional, ungkap Dr. Eko Setyo Humanika, MHum Dekan FIB UTY. Untuk menularkan pengalaman dan memotivasi para mahasiswanya, FIB UTY menyelenggarakan workshop penulisan buku dengan menghadirkan 5 alumni yang telah menjadi penulis novel berkategori best seller pada level nasional yakni Esti Nuryani Kasam, Luky Dhamayanti, Sazsy Wiyati,  Paulonna Bernadette Rotty, dan Syaeful Cahyadi.

Dalam paparannya Esti Nuryani Kasam, pemenang Anugerah Sastra DIY, dengan karya: Perempuan Berlipstik Kapur dan Orang Miskin Dilarang Sakit tersebut menyampaikan bahwa penulis merupakan profesi yang sangat mulia. Tanpa ada penulis, umat manusia di dunia saat ini  tidak bisa mempelajari isi wahyu para Nabi. Orang yang sangat pandai dan banyak ilmu sekalipun, jika sudah mati ilmunya akan terhenti jika tidak dituliskan. Melalui tulisan atau buku orang bisa memberi/menularkan ilmu sampai waktu tak terbatas, jelasnya. Untuk itu Esti Kasam mendorong mahasiswa untuk gemar menulis.  Esti Kasam menceritakan bahwa ia yang berasal dari keluarga dengan ekonomi yang sangat terbatas, kini telah berkesempatan mengunjungi delapan negara di Asia dan bertemu dengan orang-orang penting di berbagai negara, karena menulis buku.

Sementara itu Sazsy Wiyati penulis novel A Taste of Love, menyampaikan bahwa kegemaran membaca merupakan modal seorang penulis. Semakin banyak membaca berarti semakin banyak modal untuk menjadi penulis. Menulis bisa mengalir dikala bahan yang dibaca sudah melimpah, tambahnya

paulonna Bernadette Rotty dan Lucky Damayanti memeparkan materi dipandu moderator Dr. RY Radjaban, MHum

Paulonna Bernadette Rotty dan Lucky Damayanti memeparkan materi Ideologi Penulisan Novel dipandu moderator Dr. RY Radjaban, MHum

Sedangkan Paulonna Bernadette Rotty penulis novel Perempuan, Cinta dan Masa Lalu, menyampaikan bahwa sejak kecil dirinya memang dididik untuk gemar membaca. Kini membaca menjadi satu kebutuhan bagi dirinya dan keluarganya. Iapun mengajak para mahasiswa untuk benyak membaca dan tidak membatasi bahan bacaan.  Bernadeta menyampaikan bahwa sewaktu kuliah ia disarankan untuk bisa nonton film. Kebiasaan nonton masih ia lakukan sampai saat ini.  Menurutnya banyak hal yang dapat digali dari sebuah film mulai alur cerita, filosofi, seni peran dan sebagainya.

Luky Dhamayanti dengan nama pena Dhamadove telah menghasilkan karya terlarisnya : Semburat Jingga Hijau, Senandung Nokta, dan Gema Melantun, menyampaikan bahwa banyak membaca merupakan syarat mutlak menjadi penulis. Menurutnya membaca tidak terbatas menggunakan mata. Iapun mengajak para mahasiswa untuk membaca dari sudut pandang yang luas dengan menggunakan seluruh panca indera, pikiran dan perasaan. Ibarat orang melihat batik, jangan hanya sebatas melihat motifnya. Akan tetapi juga melihat /membaca bagaimana filosofi dari bagian-bagian motifnya, sentuh dan rasakan bagaimana jenis bahannya, bayangkan bagaimana kondisi para pembatiknya, bagaimana perilaku pemakainya, even yang cocok dengan desain baju batik, dan sebagainya.  Ia mencontohkan pula, ada seorang penyandang tuna netra bisa menggambarkan dan bunga mawar dengan sangat detail, jauh melebihi orang dengan penglihatan sempurna.

Menjawab pertanyaan bagaimana memulai menulis, Syaeful Cahyadi penulis novel Unfinished Poem mengatakan “mulailah menulis dari sekarang. Bangga dan percaya dirilah dengan ide yang kita miliki.“  Masalah orang lain akan suka atau tidak suka dengan tulisan kita janganlah dipikirkan, tambahnya.

Dr. RY Radjaban, MHum selaku panitia penyelenggara menyampaikan bahwa kompetensi seorang lulusan prodi Sastra Inggris lebih banyak berkisar seputar kompetensi apresiatif yang sifatnya cenderung unik/khas, berupa hasil eksplorasi pribadi dalam mengapresiasi karya sastra dan seni. Untuk itu kegiatan kurikuler di bangku kuliah saja tidaklah cukup. Capaian kompetensi sastra haruslah juga ditunjang dengan pengayaan pengalaman apresiasi melalui kegiatan ekstra kurikuler seperti workshops penulisan novel, puisi, drama, dan naskah film. Persinggungan idealisme, teori akademik, dan pengalaman dari hasil eksplorasi pribadi, nantinya akan menambah pengayaan kemampuan apresiasi sastra yang ujungnya adalah peningkatan kualitas apresiasi dalam wujud karya sastra yang berbobot dan berlevel tinggi.