Eksplorasi Desain Cultural Center dan Komersial, Bersama Pakar Internasional

Bambang Budianto memaparkan materi desain arsitektur di Kampus 2 UTY

Bambang Budianto memaparkan materi desain arsitektur di Kampus 2 UTY

Bekal mahasiswa Prodi Arsitektur Universitas Teknologi Yogyakarta (UTY), yang mengambil mata kuliah Studio Perancangan (STUPA), tidak terbatas dari dosen-dosennya saja. Namun UTY secara rutin menghadirkan praktisi berpengalaman internasional. Salah satunya adalah pada kuliah umum STUPA 6, yang berlangsung di Kampus 2 UTY akhir maret 2017 lalu dengan menghadirkan  Dwi Endah Kusumaningsih, ST.,MT., dan Bambang Budiarto. Hestin Mulyandari, ST., MT Kaprodi Arsitektur UTY menyampaikan bahwa dihadirkannya praktisi internasional dimaksudkan untuk memperbaharui materi ajar, sehingga dicapai kebaharuan materi dalam setiap materi perkuliahan. Kuliah umum kali ini utamanya ditujukan bagi mahasiswa semester 6 yang mengambil mata kuliah Studio Perancangan dengan project perancangan cultural center.

Dalam kesempatan itu Dwi Endah yang memiliki pengalaman sebagai staff ahli dalam berbagai konsultan wisata,dan berpengalaman mendampingi berbagai kegiatan wisata Indonesia di tingkat internasional menyampaikan bahwa cultural center memiliki peran penting sebagai fasilitas untuk pembangunan atau pengembangan serta berperan sebagai fasilitas untuk mewadahi keberagaman aktivitas sosial-budaya masyarakat, termasuk penampilan seni pertunjukan. Fasilitas ini bisa menjadi simbol budaya, dengan adanya area pameran, gedung pertunjukan, fasilitas atraksi publik,  theme park, fasilitas riset dan museum atau galeri seni, yang merupakan penghargaan terhadap seorang budayawan.  Pada kesempatan ini Dwi Endah memberi gambaran mengenai kondisi cultural center di Bali, Siam Niramid Cultural Center di Bangkok,  dan Jean Marie Tjibaou Cultural Center di New Caledonia.

Dalam paparannya Dwi Endah menyampaikan konsep-konsep desain cultural center berikut detail-detail mengenai kondisi setiap fungsi dan batasan desain yang mengikutinya, serta pengolahan pendekatan desain yang lebih yang lebih luas.

Sementara itu dipilihnya Bambang Budiarto, karena memiliki pengalaman magang dan bekerja di beberapa firma arsitektur internasional, diantaranya di Skidmore, Owings and Merrill LLP (SOM) salah satu firma arsitektural terbesar di Amerika Serikat, dengan keahlian merancang gedung komersial tingkat tinggi, dan menjadi pioneer perancangan gedung pencakar langit modern “kotak kaca”, kata Hestin Mulyandari.

Mahasiswa Prodi Arsitektur UTY, antusias mengikuti kuliah perancangan desain arsitektur dari Bambang Budianto

Mahasiswa Prodi Arsitektur UTY, antusias mengikuti kuliah perancangan desain arsitektur dari Bambang Budianto

Kepada mahasiswa UTY, Bambang Budiarto menyampaikan bahwa bekerja dalam sebuah tim internasional menuntut profesionalisme dalam segala hal. Seorang arsitek dituntut dapat bekerja dalam tim dan mengembangkan ide desain yang segar. Explorasi desain menjadi tuntutan setiap kali menciptakan sebuah desain yang berkarakter.  Ia menyampaikan bahwa karya-karyanya dimulai dari pencarian bentuk arsitektur dengan menggunakan beberapa pendekatan programing untuk menentukan aktifitas dan ruang yang akan digunakan. Kemampuan menentukan aktivitas yang sesuai akan menjadikan sebuah pencarian bentuk ruang menjadi lebih terukur dan dapat diwujudkan secara hitungan feasibilitas sebuah project desain.

Bambang Budianto yang ahli merancang bangunan komersial, menjelaskan bahwa explorasi desain terkait dengan standar ruang, kebutuhan ruang, peraturan yang mengikat dan kajian layak dan tidaknya sebuah fungsi. Hal itu selanjutnya di “insert” kan dalam sebuah bangunan menjadi sesuatu yang mengikat arsitek dalam menentukan bentuk karakter bangunan. Lebih lanjut ia menyampaikan bahwa  hotel, kantor dan mall harus mempunyai nilai jual yang menjadi daya tarik agar didatangi dan menjadi anchor dalam sebuah kawasan yang lebih luas.

Seorang arsitek selain mempunyai daya imajinasi yang kuat dalam memutuskan bentuk yang unik dan mampu menghitung kebutuhan sesuai standar, serta menguasai “tools” untuk mewujudkan desain tersebut. Kemampuan dalam explorasi desain akan terhambat saat tidak menguasai tools. Bambang Budiarto menyampaikan bahwa selama ini ia menggunakan 2 tools dalam mendesain yaitu perangkat lunak BIM (Building Information Modeling) yang memudahkan dalam “menggambar” dan programing tools yang beliau ciptakan sendiri dari hasil research selama dalam proses desain.