Mahasiswa Prodi Ilmu Komunikasi UTY Produksi Film Fiksi Pendek

MahasiswaProdi Ilmu Komunikasi UTY sedang merekam salah satu adegan dalam film Sulet Sentir

Dalam rangka menyalurkan semangat berkarya, mahasiswa Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Teknologi Yogyakarta (UTY) memproduksi film fiksi pendek berjudul “Sulet Senthir”. Produksi ini mendapatkan dukungan dari Unit Kegiatan Mahasiswa Campoer Seni UTY. Film pendek tersebut akan diikutsertakan dalam Festival Film Mahasiswa Indonesia 2017, yang diadakan oleh Kementrian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi Republik Indonesia. Festival tersebut bertemakan “Pengamalan Nilai-Nilai Pancasila Dalam Kehidupan Bermasyarakat, Berbangsa, dan Bernegara”.

'Badut' tokoh dalam film Sulet Sentir

Kaprodi Ilmu Komunikasi UTY, Andri Prasetyo Yuwono, S.Sos, M.I.Kom., menyampaikan bahwa film ini digagas dengan tujuan untuk ikut berkontribusi dalam menyebarkan nilai-nilai Pancasila secara lebih luas kepada masyarakat dari berbagai kalangan, khususnya anak-anak. Pembuatan film fiksi pendek tersebut juga dimaksudkan untuk meningkatkan kepercayaan diri mahasiswa dalam berkarya serta mengekspresikan pendapat serta mengeluarkan ide. Hal ini tentunya akan meningkatkan daya saing mahasiswa baik di tingkat lokal maupun nasional, tambah Andri.

Andri menuturkan bahwa naskah film ‘Sulet Sentir’ ditulis oleh mahasiswa, dengan mengisahkan tentang seorang badut yang selalu berusaha untuk menyebarkan dan menyelipkan kebaikan nilai-nilai Pancasila dalam setiap kali tampil menghibur anak-anak.  Andri menyampaikan bahwa ‘sentir’ merupakan lampu kecil yang biasa digunakan orang desa sebelum era listrik. ‘Sulet Sentir’ atau menyalakan lampu sentir, mengisahkan upaya memberi penerangan/pencerahan dalam minimnya cahaya / kegelapan. Diartikan pula betapa berartinya sebuah cahaya kecil dalam kegelapan.

Badut sedang menghibur anak-anak

Menurut Andri dipilihnya tokoh badut sebagai sang pencerah dalam penyebaran nilai-nilai kebaikan Pancasila, diibaratkan sebagai lentera kecil dalam minimnya pencerahan terhadap penyebaran nilai-nilai Pancasila bagi anak-anak. Dipilihnya tokoh badut, karena secara umum anak-anak suka dengan kelucuan badut, sehingga pesan moral yang disampaikan melalui badut akan mudah diterima anak-anak. Digambarkan dalam film tersebut ‘Sang Badut” dengan sabar dan tanpa pernah menyerah menyelipkan pesan-pesan moral berdasarkan nilai-nilai Pancasila diantaranya cinta tanah air dan kesadaran bertoleransi dalam masyarakat yang majemuk. Diharapkan bekal yang diperoleh anak-anak dari “badut” tersebut akan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari dan dapat disebarkan oleh anak-anak ke teman-temannya.