Sholat Iedul Adha 1438 H Bersama, di Lingkungan Kampus UTY

Ribuan Jamaah sholat Iedul Adha 1428 H di Masjid Kampus 1 UTY meluber di halaman belakang

Sebagaimana pada hari-hari Raya sebelumnya, Universitas Teknologi Yogyakarta (UTY) selalu menggelar Sholat Ied di Kampus 1 dan Kampus 2. Di Kampus 1, sholat Ied dilaksanakan di Masjid Besar UTY dengan ribuan jamaah yang meluber di halaman tengah Kampus 1 UTY. Sedangkan di Kampus 2, sholat Ied dilaksanakan di halaman Kampus. Bertindak sebagai Khotib di Kampus 1 Prof. Prof. Drs. M. Mukhtasar Syamsuddin, M.Hum, Ph.D of Arts,  dengat khotbah bertajuk ‘Makna Qurban Dalam Menegakkan Kebenaran Islam’. Sedangkan  khotib di Kampus 2 Dr. Mustaqim Pabbajah, MA, membawakan tema ‘Iedul Qurban dan Pesan Arafah Sebagai Amanah Persatuan dan Kesatuan’.

Prof. Drs. Mukhtasar Syamsudin, M Hum PhD of Arts menyampaikan khotbah di Masjid kampus 1 UTY

Dalam khotbahnya, Mukhtasar menyampaikan bahwa perayaan ‘Iedul Adha tidak bisa dilepaskan dari peristiwa sejarah yang terjadi ribuan tahun silam, saat Nabi Ibrahim AS yang dengan penuh ketaqwaan, memenuhi perintah Allah untuk menyembelih anak yang dicintai dan disayanginya, yakni Nabi Ismail AS.  Namun atas kekuasaan Allah, Nabi Ismail AS yang sudah dengan ikhlas berserah diri untuk disembelih berganti menjadi seekor kambing gibas atau hewan sejenis domba. Kisah ini diabadikan dalam Al Quran Surat Ash Shaafaat, ayat 102. Mukhtasar menyampaikan bahwa Iedul Adha memiliki dimensi ibadah-spiritual, yaitu suatu bentuk ketaatan yang dilandasi keikhlasan sehingga manusia menjadi dekat dengan Sang Khaliq, dan dimensi sosial, berupa tradisi yang menciptakan kesejahteraan dalam lingkungan sosial berupa penyediaan daging kurban bagi sesama, terutama mereka yang kurang mampu.

Mukhtasar juga menyampaikan bahwa pengorbanan dalam konteks kehidupan saat ini, juga bisa dilihat dari seorang pemimpin yang berusaha untuk menyejahterakan rakyatnya. Pemimpin yang adil adalah yang senantiasa berkurban melalui kontribusi yang signifikan dalam meningkatkan kesejahteraan hidup setiap anggota yang dipimpinnya. Pengorbanan seorang suami sebagai kepala rumah tangga, berjuang membanting tulang demi menafkahi dan menyelamatkan keluarganya. Kesetiaan seorang istri terhadap suaminya juga merupakan wujud pengorbanan. Orang tua mendidik dan membesarkan anak-anaknya sehingga menjadi sukses dalam hidupnya, juga wujud pengorbanan. Dengan demikian, pengorbanan bisa berdimensi luas. Pengorbanan merupakan konsekuensi logis dari keyakinan yang diperjuangkan demi menegakkan kebenaran Islam.  ‘Hidup adalah perjuangan dan setiap perjuangan pasti memerlukan pengorbanan’, kata Mukhtasar.

Dr Mustaqim Pabbajah, MA menyampaikan khutbah di Kampus 2 UTY

Sementara itu Mustaqim Pabbajah dalam khobahnya menyampaikan bahwa kalimat Takbir yang melambangkan keagungan dan kebesaran Allah telah mempersatukan bangsa Indonesia bahkan umat beragama di seluruh persada bumi. Karena, pada kandungan Takbir terpancar aneka kesatuan, seperti kesatuan alam semesta, kesatuan dunia dan akhirat, kesatuan natural dan supranatural, kesatuan ilmu, kesatuan agama-agama samawi, kesatuan umat, kesatuan bangsa, kesatuan kemanusian, kesatuan kepribadian manusia, dan lain sebagainya.

Lebih lanjut Mustaqim mengutip apa yang tertuang dalam Al Qur’an Surat Ar-Ra’d ayat 13, yang menyebutkan bahwa manusia yang beragam warna kulit, jenis dan sukunya, yang berbeda-beda agama, kepercayaan dan pandangan hidupnya, kesemuanya berasal dari satu, dari Adam. Lalu semua yang hidup, memiliki satu kebutuhan pokok yang sama dan dari yang satu itu, mereka diciptakan Tuhan dan dengannya mereka dapat melanjutkan hidup.

Usai sholat Iedul Adha, dilakukan penyembelihan hewan Qurban di Kampus1 UTY.  Tahun ini UTY menyembelih sepuluh ekor sapi dan dua ekor kambing yang berasal dari Dosen, Karyawan dan Yayasan Dharma Bhakti IPTEK. Daging qurban dibagikan kepada warga sekitar tiga Kampus UTY, panti asuhan dan keluarga besar UTY.