Sharing Penanggulangan Radikalisme

Rektor UTY memaparkan materi Penanggulangan Radikalisme

Menindaklanjuti hasil Deklarasi Melawan Radilakisme yang dilakukan Presiden RI Joko Widodo bersama para Rektor se-Indonesia beberapa waktu lalu di Bali, pada hari Sabtu (29/9) Universitas Teknologi Yogyakarta (UTY) mengumpulkan Dosen-dosen dan Karyawannya untuk melakukan sharing, guna membangun kesadaran dalam mencegah penyebaran dan melakukan penanggulangan paham radikalisme di lingkungan Kampus UTY.

Adapun narasumber pada acara tersebut, Rektor UTY Dr. Bambang Moertono Setiawan, MM., Akt., CA. “Acara ini digelar sebagai wujud upaya partisipasi UTY dalam mendukung program-program pemerintah. Adapun materi yang disampaikan merupakan materi yang ia peroleh dalam acara di Bali bersama para Rektor seluruh Indonesia akhir September lalu”, kata Bambang Moertono.

Dosen-dosen UTY menyimak paparan Dr. Bambang Moertono Setiawan, MM., Akt., CA

Dalam paparannya Bambang Moertono menyampaikan bahwa fenomena  yang terjadi saat ini menunjukkan, paham radikalisme telah menyasar ke barbagai lini, termasuk perguruan tinggi. Fenomena masuknya radikalisme di pergururan tinggi bahkan sudah bukan merupakan sesuatu yang baru lagi. Hal ini ditunjukkan adanya pelaku radikalisme yang berasal dari golongan ekonomi mampu dan berpendidikan tinggi. Iapun mengajak kepada seluruh jajaran di UTY untuk bersama-sama untuk waspada terhadap infiltrasi dan penyebaran paham radikalisme.

Menurutnya, acara ini juga merupakan salah satu langkah UTY mewujud kepedulian terhadap bangsa dan keutuhan NKRI, dengan adanya fenomena tersebut, yakni dengan menjawab pertanyaan “Apa yang bisa kita perbuat?” , ungkap Bambang Moertono. 

Bambang Moertono menjelaskan bahwa metode penyebaran paham radikalisme memiliki dua pendekatan kekuatan, yaitu kekuatan kekerasan dan kekuatan lunak. Penyebaran paham radikalisme dengan kekerasan dapat dideteksi dan secara kasat mata karena dapat terlihat. Sehingga penyelesaiannya dapat dilakukan oleh aparat berwajib. Namun, justru yang harus lebih diwaspadai khususnya bagi perguruan tinggi adalah pendekatan soft power (kekuatan lunak) dengan strategi cuci otak (brainwashing), dan kadang menggunakan idiom agama. Untuk itu ia mengajak kepada seluruh keluarga besar UTY, khususnya para dosen untuk bisa mendeteksi dan mencegah munculnya paham radikalisme di kampus dengan cara meningkatkan emphaty, lebih care dan bekerja dengan hati. Yakni selalu melihat dan memperhatikan dinamika mahasiswa baik di kelas maupun di luar kelas.  

Menurut Bambang Moertono, saat ini semua pihak harus waspada dengan penyebaran dan penghasutan melalui media sosial. Ia menjelaskan ciri-ciri konten status radikal, diantaranya melakukan penghasutan dengan konten sara dan radikalisme, menyebarkan kebencian dan kekerasan dengan menjelekkan kelompok lain, menyebarkan pemahaman sesat yang dapat mengancam keutuhan NKRI.   

Kepada para Dekan dan Kaprodi ia mengajak untuk lebih aktif mengadakan kegiatan-kegiatan kreatif dan inspiratif di bidang akademis untuk mendorong prestasi mahasiswa. Begitu pula kegiatan-kegiatan kesenian, budaya, olahraga dan kemasyarakatan dengan terus menyisipkan pesan-pesan untuk mencegah dan menangkal paham radikalisme.

Mengakhiri pemaparannya Rektor UTY mengistruksikan “segera laporkan kepada Pimpinan UTY apabila ditemukan indikasi penyebaran radikalisme di lingkungan Kampus UTY”.