Menuju Generasi Berencana Yang Cendekia

Subiyantara dari Dinas Keluarga Berencana Kabupaten Sleman menyampaikan materi di UTY

Pelajar Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama dan Sekolah Lanjutan Tingkat Atas, merupakan remaja pada usia produktif yang rentan terhadap berbagai permasalahan, mulai dari seks pranikah, kelahiran bayi pada usia remaja, aborsi dan penyalahgunaan narkoba. Guru bimbingan dan konseling di sekolah yang mampu membimbing perjalanan mereka, menjadi sangat berarti dalam mewujudkan cita-cita mereka. Secara luas keberhasilan pembimbingan tersebut juga merupakan keberhasilan mempersiapkan generasi bangsa. 

Untuk mempersiapkan SDM guru-guru bimbingan dan konseling yang mampu tanggap terhadap permasalahan remaja, Prodi Bimbingan Konseling Universitas Teknologi Yogyakarta (UTY) menggandeng Dinas Keluarga Berencana (KB) Kabupaten Sleman, untuk menyelenggarakan diskusi ilmiah mengenai Kesehatan Reproduksi Remaja, Ketahanan Keluarga, dan Generasi Berencana (20/10).

Kaprodi Bimbingan Konseling UTY Nararya Rahadyan B., M.Pd mengatakan bahwa diskusi bertema “Menuju Generasi Berencana yang Cendekia” tersebut digagas dari dasar pemikiran tentang tingginya angka perceraian di kalangan remaja yang melakukan pernikahan dini. Diskusi ilmiah tersebut dimaksudkan untuk memberikan bekal bagi mahasiswa berupa ilmu pengetahuan dan informasi terkait resiko “pernikahan dini”.

Nararya Rahadian B, MPd memberikan sambutan pada Diskusi ilmiah Kesehatan Reproduksi Remaja

Dalam paparannya Subiyantara narasumber dari Dinas KB Kabupaten Sleman menyampaikan bahwa usia remaja merupakan fase peralihan atau transisi dalam segala aspek, mulai dari fisiologis hingga psikologis. “Usia remaja juga merupakan usia yang rentan terhadap perilaku penyimpangan moral dan sosial,” tuturnya. Menurutnya, kesadaran dan menyadarkan seluruh elemen masyarakat mengenai kesehatan reproduksi remaja, ketahanan keluarga, dan generasi berencana merupakan tanggung jawab semua pihak. Terlebih mahasiswa, sebagai kaum intelektual seyogyanya mampu hadir dalam rangka memberikan edukasi tersebut di setiap ranah lingkungan pendidikan, baik formal, informal, maupun non-formal.

Dalam sambutannya, Dekan Fakultas Ilmu Pendidikan UTY Dr. Mustaqim Pabbajah, MA menyampaikan harapannya agar seluruh mahasiswa BK UTY mampu melihat berbagai peluang dan kesempatan atas kompetensi keilmuan yang dimiliki. Kajian dan layanan Bimbingan dan Konseling menurutnya mampu masuk dalam berbagai wilayah, termasuk pada remaja dan keluarga. Iapun mendukung prodi BK UTY yang membangun dengan berbagai institusi yang memiliki relevansi dengan bidang keilmuan bimbingan dan konseling. Hal ini tentunya akan memperluas khasanah pengetahuan mahasiswa, yang nantinya sangat bermanfaat sebagai bekal dalam memberikan bimbingan dan konseling kepada siswa.