Serangan Cyber, Timbulkan Kerugian Besar dan Kacaukan Layanan

Prof. Ainun Na'im, PhD. Sekjen KemRistek Dikti RI, mememaparkan materi saat menjadi keynote speaker seminar Cyber Security

Semua layanan jasa di perusahaan, institusi dan lembaga-lembaga baik pemerintah maupun swasta dengan teknologi yang terkoneksi dengan internet sangat membutuhkan keamanan yang mumpuni. Serangan dari cyber dapat menimbulkan kerugian yang sangat besar dan mengacaukan layanan.  “Teknologi bukan hanya tentang bagaimana perangkat-perangkat lunak atau keras bisa mengolah data dengan cepat, efisien dan memiliki kapasitas data yang sangat besar. Namun faktor teknologi keamanan data-data harus menjadi perhatian tersendiri”, kata Prof. Ainun Na’im, PhD, MBA, Sekretaris Jenderal Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi RI, saat menjadi Keynote Speaker pada  Seminar Nasional Cyber Security bertajuk “Urgensi Cyber Security Sebagai Agenda Prioritas Nasional” yang diselenggarakan oleh Fakultas Teknologi Informasi dan Elektro Universitas Teknologi Yogyakarta (UTY), Kamis 28 Nopember 2017 di The Alana Hotel Yogyakarta.

Para peserta seminar antusias mengikuti paparan Prof. Ainun Na'im, PhD.

Soal arti penting pengamanan data-data penting dengan kapasitas besar tersebut, Prof. Ainun Na’im mepaparkan dengan contoh kongkret yang dialaminya. Ia menceritakan, saat menjadi Sekretaris Jenderal Kemendikbud ia mengelola Data Pokok Pendidikan yang berisi data siswa SD s/d SLTA berjumlah 30 juta siswa, berikut data kecukupan guru, kecukupan siswa masing-masing sekolah, serta data kelayakan ruang-ruang masing-masing sekolah se Indonesia.  Data besar tersebut suatu hari menjadi terkunci karena serangan hecker. Dua hari berikutnya baru dapat recovery dan tertangkap pelakunya. Ternyata seorang anak kecil yang sedang iseng, ungkapnya.  Contoh lain, saat menjadi Sekretaris Jenderal KemRistek Dikti. Ia mendapati website dari sebuah Kopertis mengumumkan sesuatu yang tidak ada di Kemenristek Dikti. Setelah dilacak ternyata pihak Kopertis tersebut baru menyadari kalau websitenya dapat ditembus hecker, dengan mengumumkan berita bohong (hoax).  

Di sisi sebaliknya, saat terjadi tragedi besar WTC di Amerika Serikat, ia tengah berproses transaksi dengan pembayaran internasional untuk keperluan besar Kemendikbud, yang melibatkan beberapa pihak di beberapa negara, dengan transfer elektronik, dengan menggunakan layanan Bank yang berkantor  di gedung WTC tersebut. Namun ternyata bank tersebut mempunyai back up system dengan resiko sebesar apapun, sehingga transaksi hanya terhenti 13 detik saja, saat gedung WTC runtuh. Sehingga uang negara dalam transaksi tersebut aman, ungkapnya.      

Dari contoh-contoh tersebut, Prof. Ainun Na’im menyampaikan begitu pentingnya membangun cyber security. Menurutnya ada tiga hal fundamental dalam membangun cyber security. Pertama, membangun kesadaran masyarakat untuk proteksi diri. Kesadaran ini akan mendorong seseorang, institusi, atau perusahaan akan berusaha bagaimana membuat pengamanan pengelolaan layanan berbasis internet miliknya, agar tidak diserang oleh para pengganggu dunia maya. Kedua membangun IT Governance, diantaranya dengan mengatur penempatan wifi yang tepat, internet dan website jangan sampai bocor, dan  pemilihan orang tepat sebagai pemegang password. Ketiga, adanya peraturan perundangan untuk menjerat para pelaku kejahatan dunia maya. Saat ini di Indonesia telah terbit Undang-undang Informasi dan Transaksi Elektronik UU ITE, tambahnya.  

Rektor UTY Dr. Bambang Moertono Setiawan, MM., Akt membuka seminar Cyber Security dan memberikan sambutan

Sementara itu Rektor UTY Dr. Bambang Moertono Setiawan, MM., Akt., CA dalam sambutan pembukaan seminar tersebut menyampaikan bahwa perilaku orang mengalami perubahan yang sangat signifikan di era digital saat ini  dengan jumlah pengguna internet dunia yang terus meningkat secara drastis. Sejalan dengan perubahan perilaku tersebut, dunia industri juga menciptakan model-model baru dalam pengelolaan bisnis. “Segala kegiatan yang terintegrasi dengan penggunaan teknologi wireless dan internet mampu menghasilkan inovasi-inovasi baru yang memerlukan cyber security”, tutur Bambang Moertono. Menurutnya pentingnya cyber security karena saat ini  para penyerang / hecker terus berinovasi, bahkan mereka mampu menyelinap ke dalam jaringan tanpa terdeteksi. Sehingga bisa dengan mudah menghindari tindakan keamanan.  Oleh karena itu pula, ia sangat mendukung penyelenggaraan seminar Cyber Security tersebut. Ia berharap, seminar ini dapat menambah pengetahuan dan memperluas wawasan serta pemahaman para peserta terkait serangan cyber. Selain itu juga diharapkan para peserta dapat mengembangkan solusi pertahanan dan keamanan terhadap ancaman dan gangguan yang berhubungan erat dengan penggunaan teknologi yang berbasis komputer yang terhubung dengan jaringan internet.