Urgensi Cyber Security Sebagai Agenda Prioritas Nasional

Prof. Jazi Eko Istiyanto, Ph.D, IPU. Kepala BAPETEN RI sedang memaparkan materi pada seminar Cyber Security yang diselenggarakan UTY

Beberapa bulan lalu dunia dibuat gempar oleh serangan ransomware jenis WannaCry, sebuah program jahat yang telah menyerang jaringan komputer rumah sakit dan perusahaan di berbagai belahan dunia. Tercatat lebih dari 200.000 korban di sekitar 150 negara. Ransomware WannaCry mengunci dokumen penting dari perusahaan yang diserang, sehingga tidak dapat diakses dan muncul pesan untuk membayar uang tebusan agar dokumennya bisa dibuka kembali. Jika tidak dipenuhi dokumen-dokumen milik korban diancam akan dihapus.

Serangan ransomware tersebut telah memicu berbagai pihak untuk berupaya membangun pertahanan dan keamanan terhadap serangan cyber yang dapat menimbulkan kerugian sangat besar tersebut. Terkait dengan hal itu pula Fakultas Teknologi Informasi dan Elektro Universitas Teknologi Yogyakarta, menggelar seminar nasional bertajuk  “Urgensi Cyber Security Sebagai Agenda Prioritas Nasional” di The Alana Hotel Yogyakarta, Kamis 28/11/2017.

Seminar nasional tersebut menghadirkan pembicara yang ahli di bidangnya yakni Prof. Ainum Na’im, PhD, MBA Sekretaris Jenderal Kementrian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi RI  sebagai keynote speaker. Selain itu, menghadirkan Prof. Jazi Eko Istiyanto, Ph.D, IPU Kepala Badan Pengawas Tenaga Nuklir (BAPETEN) RI, Intan Rahayu, M.T Kasubdit Budaya Keamanan Indonesia Kementerian Komunikasi dan Infomasi RI dan Riyanto, M. Eng Ketua UPT Komputer/PUSKOM UTY.

Dalam sambutannya, Ketua Panitia Dr. Enny Itje Sela, M.Kom., menuturkan bahwa melalui kegiatan ini peserta diharapkan mendapatkan pengetahuan luas dan mendalam mengenai kemajuan teknologi informasi yang berdampak secara signifikan terhadap pengamanan data informasi , termasuk saat terjadi bencana. “Seminar Cyber Crime bertujuan untuk mendukung sumber daya manusia pengguna teknologi untuk dapat lebih cerdas dan peduli dengan pengamanan data-data yang dimiliki,” ungkapnya.

Dalam acara yang dihadiri oleh ratusan peserta seminar yang berasal dari kalangan mahasiswa dan akademisi tersebut,  Kepala Badan Pengawas Tenaga Nuklir (Bapeten) RI, Prof. Jazi Eko mengatakan, di negara-negara maju diantaranya Perancis, AS, China, energi nuklirnya telah lama digunakan untuk banyak kegiatan. Menurut Prof. Jazi Eko bencana-bencana nuklir di berbagai negara diantaranya di Kyshtym, Rusia (1957), di Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir  Three Mile Island, Amerika Serikat (1979), di Pusat Tenaga Nuklir Chernobyl, Ukraina (1986), salah satunya disebabkan tidak ada atau kurang berfungsinya badan pengawas nuklir di negara tersebut. 

Meskipun Bapeten telah diakui sebagai salah satu badan pengawasan yang terbaik di kawasan Asia Pasifik, namun untuk mewujudkan Pembangkit Listrik Negara Nuklir (PLTN), Pemerintah Republik Indonesia masih belum yakin 100 persen. Menurutnya salah satu kekhawatiran terwujudnya PLTN di Indonesia adalah ketakutan adanya bencana jika pembangkit nuklir mengalami kebocoran.

Terkait dengan cyber securiy, Prof. Jazi Eko menyampaikan bahwa Indonesia dengan jumlah pengguna internet yang mencapai lebih dari 130 juta orang, merupakan negara dengan resiko serangan cyber yang tinggi. Penggunaan akun orang lain untuk belanja atau mengambil uang, merupakan salah satu kejahatan cyber yang harus diwaspadai. Untuk itu ia menghimbau agar Kominfo dapat mensosialisakan sanksi-sanksi terhadap pelaku kejahatan dunia mayam yang termaktub dalam UU ITE. 

Intan Rahayu Kasubdit Budaya Keamanan Indonesia Kementrian Komunikasi dan Infomasi RI menyampaikan materi seminar Cyber Security

Sementara itu Intan Rahayu menyampaikan bahwa cyber attack di Indonesia sangat besar. Karena itu Indonesia membutuhkan satu badan yang memproteksi kegiatan cyber nasional, yang memproteksi arus lalu lintas terutama di bidang e-commerce, perbankan, dan menyangkut persoalan jasa keuangan online. Dalam kesempatan itu, ia juga menjelaskan tentang Indeks  Keamanan Informasi (KAMI), yang merupakan perangkat untuk memberikan gambaran kondisi kesiapan (kelengkapan dan kematangan) kerangka kerja keamanan informasi suatu organisasi, institusi atau lembaga. Penjelasan indeks tersebut menurutnya bertujuan untuk meningkatkan kesadaran dan pemahaman akan pentingnya menerapkan keamanan informasi demi menjaga kelancaran dan keberlangsungan layanan publik yang andal, aman dan bertanggung jawab.

Riyanto, MEng, Kepala Puskom UTY menjelaskan secara teknis bagaimana membangun IT Governance

Sedangkan Riyanto, mengibaratkan keamanan data dengan kemanan menyimpan uang. Jika uang sedikit maka bisa disimpan di rumah. Namun jika jumlahnya besar maka akan aman jika disimpan di bank.  Begitu juga dengan data.  Untuk itu ia menjelaskan dan membandingkan bagaimana backup and restore data, secara konvensional dengan modern. Secara konvensional biasa menggunakan compact disk, digital versatile disk, external disk, dan flash disk. Sedangkan secara modern menggunakan cloud computing. Riyanto menjelaskan bahwa penyimpanan secara konvensional memiliki resiko tinggi. Sehingga dalam seminar tersebut secara teknis dan detail ia menjelaskan bagaimana cloud backup and disaster recovery-nya.