Terapi Traumatis : Isi Sugesti Positif dan Bermakna, Buang Negatifnya

Eko Perianto, MSi, didampingi moderator Nararya Rahadyan Budiono, MPd

Pemahaman terhadap penanggulangan risiko bencana di kalangan mahasiswa, saat ini masih relatif minim. Sedangkan karakteristik wilayah di Indonesia banyak yang tergolong rentan terhadap bencana. Guna membekali pemahaman mahasiswa dalam penanggulangan bencana, khususnya dalam upaya kuratif maupun mitigasinya, termasuk dampak psikologis pasca bencana, Prodi Bimbingan Konseling Fakultas Pendidikan Universitas Teknologi Yogyakarta (UTY) menyelenggarakan kegiatan kuliah umum dan diskusi ilmiah kebencanaan dengan tema “Heal Your Self, Heal The World”, di Kampus 2 UTY Jl. Glagahsari 63 Yogyakarta, (Jum’at 29/12/2017) .  Adapun narasumber pada acara tersebut, Eko Perianto, M.Si seorang pakar konseling tarumatik yang memiliki banyak pengalaman penanggulangan psikologis pasca bencana.

Salah satu peserta mengajukan pertanyaan kepada Eko Perianto, MSi selaku narasumber

Dalam paparannya Eko Perianto mengungkapkan bahwa frekuensi bencana di Indonesia relatif tinggi. Ia menyampaikan, berdasarkan data dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), terdapat 2.271 peristiwa bencana yang terjadi sejak awal tahun 2017 hingga 19 Desember 2017, yang disebabkan oleh faktor alamiah.  Tujuh diantaranya masuk dalam kategori bencana besar dan parah yang banyak menimbulkan korban dan kerugian kehidupan serta penghidupan manusia. Sedangkan merujuk pada pengertiannya, situasi kedaruratan yang disebabkan faktor-faktor non alam serta sosial juga masuk pada pengertian bencana. Tidak dipungkiri lagi kerugian materil maupun non meteriil yang disebabkan bencana tersebut, jelasnya.

 Kepada para mahasiswa, Eko mengisahkan berbagai pengalaman dalam penanganan dampak psikologis bencana serta pengalaman pribadinya dalam melakukan self healing mengurangi bahkan menghilangkan sugesti traumatik para korban bencana. “Membuang sugesti dan perasaan takut, lalu mengisi dengan sugesti positif dan lebih bermakna adalah konsep utama keberhasilan terapi traumatis”, kata Eko Perianto. Kuliah umum dan diskusi tersebut menjadi lebih menarik, karena menghadirkan pula 10 orang kontributor/narasumber yang benar-benar menjadi korban bencana (alam, non alam, dan sosial). Sehingga wawasan yang diperoleh mahasiswa bukan hanya wawasan teoretis namun juga empiris karena interaksi dan diskusi tentang pengalaman real  yang dialami para korban. Peserta yang mengikuti kegiatan kuliah umum juga bukan hanya dari kalangan mahasiswa UTY, namun juga mahasiswa dari berbagai perguruan di Yogyakarta, dan perguruan tinggi luar DIY.

Nararya  Rahadyan Budiono, MPd. Kaprodi Bimbingan Konseling UTY  mengatakan  bahwa kajian ilmiah dalam menangani potensi bencana dari beragam perspektif  tersebut merupakan salah satu bentuk aktualisasi mahasiswa yang tengah menempuh mata kuliah Bimbingan dan Konseling Bencana pada  semester ganjil TA 2017/2018.  Ia berharap kuliah umum dan diskusi dengan menghadirkan praktisi yang telah berpengalaman langsung di lapangan tersebut dapat memberikan bekal mahasiswa dalam mengabdikan diri di masyarakat nantinya. Sehingga ketika ada bencana datang, mahasiswa bisa tanggap dan secara cekatan serta cepat dapat melakukan sesuatu yang bermakna dalam mengurangi dampak bencana khususnya dalam terapi traumatis.