Brownies Tiwul, Inovasi Padukan Makanan Tradisional dan Modern

Tiwul merupakan makanan tradisional Yogyakarta, khususnya daerah Gunungkidul, dengan bahan dasar singkong. Keberadaan tiwul saat ini banyak ditinggalkan konsumen, karena tergusur oleh produk makanan modern. Untuk itu mahasiswa Universitas Teknologi Yogyakarta (UTY) yang tergabung dalam Program Kreatifitas Mahasiswa (PKM), yang terdiri dari Sulaiman Aswara, Muhsinin, Rizqi Bagus dan Febriyanto tergugah untuk memadukan makanan tradisional tiwul dengan dan makanan modern brownies. Inovasi para mahasiswa UTY tersebut diberi nama BRONTI yang merupakan kepanjangan dari Brownies Tiwul.

Sulaiman menyampaikan optimismenya bahwa peluang bagi produk ini untuk  berkembang masih terbuka lebar. Hal ini diyakini, karena masyarakat sekarang cenderung menyukai makanan dengan brand modern, akan tetapi yang memiliki keunikan tersendiri, terlebih pada segmen wisatawan. Para wisatawan secara umum akan mencari sesuatu yang khas dari daerah tujuan wisata. Seiring dengan semakin ramai wisatawan yang ke Yogyakarta dan pantai-pantai di Gunungkidul, maka peluang pasar bagi brownis tiwul terbuka lebar, ungkap Sulaiman.

Sulaiman menyampaikan bahwa Produk Brownies Tiwul ini dipasarkan dengan harga Rp 35.000,- per loyang.  Adapun varian dari Bronti terdiri rasa original, kacang dan keju. Dengan kemasan yang eksklusif,  Bronti menyasar pada seluruh segmentasi usia sesuai dengan selera masing-masing. Tidak hanya dikonsumsi untuk waktu luang, Bronti juga dapat menjadi sajian berbagai acara hingga kunjungan.

Melihat kebutuhan bisnis masa kini dimana masyarakat menyukai kemudahan dengan tuntutan pelayanan yang tinggi, Brownies Tiwul dipasarkan dengan di gerai dan dan online, dengan fasilitas delivery atau pesan antar. Harapannya, Brownies Tiwul ini dapat bersaing di industry makanan di Indonesia, khususnya di Yogyakarta. Ia berharap dengan memproduksi makanan sehat, dapat berkontribusi menciptakan lingkungan hidup sehat.

Satyo Nuryadi, S.T., M.Eng Kaprodi Teknik Elektro UTY, sekaligus sebagai pembimbing menyatakan apresiasinya terhadap inovasi dari para mahasiswa UTY tersebut. “Mahasiswa sangat jeli melihat peluang bisnis produk makanan tradisional menjadi bentuk makanan yang modern dan bercita rasa tinggi. Kandungan karbohidrat dan gizi yang tinggi akan menyediakan olahan pangan yang bermanfaat bagi konsumen, ungkapnya.