Katakan Tidak Pada Narkoba, Hindari Intoleransi, Radikalisme serta Terorisme

Kapolda DIY Brigjen Drs. Ahmad Dhofiri, MSi menyampaikan materi dihadapan Mahasiswa Baru UTY TA 2018/2019

Universitas Teknologi Yogyakarta merupakan satu-satunya kampus di Daerah Istimewa Yogyakarta yang peduli dengan masalah Kamtimbas (keamanan dan ketertiban masyarakat). Secara fisik kepedulian ini ditunjukkan dengan adanya pembangunan Pos Lalu Lintas di Jl Magelang – Jombor Yogyakarta, Pos Polisi di Kronggahan Jl Ringroad Utara Yogyakarta dan Pos Polisi di Zona Merah.  Pembangunan ini memberikan kontribusi terhadap pemenuhan sarana kamtibmas. “Selain itu, jauh sebelum para Rektor se-Indonesia dikumpulkan Presiden Jokowi di Bali sebagai bentuk pencegahan menyebarnya paham radikalisme, UTY telah berkomitmen dan melakukan upaya pencegahan tersebut dengan beberapa aktifitas”, kata Kapolda DIY Brigjen Pol Drs. Ahmad Dofiri, M.Si. dalam acara kuliah umum Penyambutan Mahasiswa Baru UTY tahun Ajaran 2018/2019 di Kampus 1 UTY Jl Siliwangi Ringroad utara Jombor Yogyakarta, Senin 10 September 2018.

Dalam cemahanya, Kapolda menyatakan bahwa terdapat tiga hal yang sangat mempengaruhi kamtibmas yakni narkoba, kecanggihan teknologi internet serta intoleransi dan radikalisme. Indonesia merupakan negara darurat narkoba di mana efek-efek buruk dari narkoba telah banyak merusak generasi penerus bangsa. Selain itu, gadget dan internet juga telah mempengaruhi kondisi sosial dan budaya. Di satu sisi gadget dan internet telah memberikan manfaat yang besar, namun di sisi lain juga berdampak buruk yaitu menurunkan kualitas peradaban. Hal ini disebabkan oleh ketiadaan etika yang baik dalam dunia maya khususnya media sosial. Selain itu, tersebarnya berita-berita hoax sangat merugikan masyarakat serta dapat merusak pertahanan dan keamanan nasional.

NKRI yang terdiri dari banyak suku bangsa dan agama sejatinya merupakan kekuatan tersendiri jika kerukunannya dapat terus dijaga. Untuk itu, dibutuhkan pemuda yang mempunyai kadar keilmuan yang bersifat kebangsaan. Pemuda yang memiliki jiwa nasionalis akan memiliki sikap yang toleran dan secara penuh mendukung NKRI. Pemuda tersebut tidak mudah terpengaruh oleh ancaman-ancaman negara asing di era kompetisi global saat ini. Lebih lanjut Ahmad Dhofiri menyampaikan bahwa di era modern ini penghancuran negara tidak lagi dilakukan secara konvensional, tapi dapat dilakukan dengan sasaran non-fisik. Yakni melalui ideologi, ekonomi, budaya dan operasi intelijen. Sehingga, tindakan intoleransi, radikalisme, terorisme perlu diwaspadai dan dihindari sedini mungkin, termasukdi kalangan mahasiswa.

Menurutnya, dalam menghadapi peristiwa intoleransi dan radikalisme yang belakangan ini sering terjadi, masyarakat harus mengambil sikap bijak. Kalangan mahasiswa sebagai generasi milenial harus membekali diri dengan pemahaman agama yang baik sehingga dapat terhindar dari ajakan-ajakan bersifat ekstrem yang menjerumuskan. Kelompok teroris yang mengatasnamakan agama memang hanya berjumlah sedikit, tetapi mereka bisa terus berkembang dan meneror sehingga harus diwaspadai. “Kelompok radikal menyebarkan pemahaman agama yang sempit dan melakukan propaganda melalui media sosial. Oleh karena itu, generasi milenial harus cerdas menggunakan media sosial,” ujar Ahmad Dhofiri. “Ciri-ciri situs radikal yaitu memiliki konten radikalisme dan terorisme, ialah melakukan penghasutan bermuatan SARA, menyebarkan pemahaman yang menjelekkan kelompok lain serta menyebarkan pemahaman jihad yang sempit dan jauh dari kedamaian “ kata Ahmad Dhofiri.

Permasalahan yang mengancam ketahanan nasional ini merupakan permasalahan kita bersama sehingga kita harus bersikap tegas dan terus menyebarkan semangat untuk: “Katakan tidak pada narkoba. Gunakan media sosial dengan bijak dan hindari intoleransi, radikalisme serta terorisme” ajak Ahmad Dhofiri.