Seminar Nasional Mitigasi Bencana Bandara NYIA

Para peserta seminar Teknik Sipil UTY, dengan antusias mengikuti paparan para pemateri

Himpunan Mahasiswa Teknik Sipil UTY tahun ini kembali berhasil mengadakan Seminar Nasional pada tanggal 12 Mei 2018, dengan mengangkat tema “NEW YOGYAKARTA INTERNATIONAL AIRPORT: MITIGASI BENCANA TERHADAP TSUNAMI DAN GEMPA BUMI”.  Kegiatan yang dilaksanakan di Gowongan Inn Yogyakarta Hotel dihadiri lebih dari 200 peserta baik mahasiswa, dosen, praktisi, dan tamu undangan delegasi mahasiswa Teknik Sipil di berbagai kampus se-Yogyakarta. Seminar nasional ini menghadirkan empat orang pembicara yaitu Ir. Lukman F Laisa ( Direktur Teknik PT. Angkasa Pura 1 Persero) yang diwakili oleh Gani WIjaya selaku Corporate Expert Proyek Bandara NYIA dan Liza Anindya Rahmadiani selaku Communication and Legal Section Head Bandara International Adi Sucipto Yogyakarta, Prof. Ir. H. Sarwidi, MSCE., Ph.D., IP-U (Guru Besar Teknik Sipil UII sekaligus Pakar Rekayasa Kegempaan dan Pengarah BNPB RI) dan Dr. I Nyoman Sukanta, S.Si., M.T. (Kepala Stasiun Geofisika Kelas 1 Yogyakarta)

Ketua Jurusan Teknik Sipil, Muhammad Yani Bhayusukma, Ph.D dalam sambutannya menyampaikan bahwa seminar nasional ini mensosialisasikan New Yogyakarta International Airport dalam upaya mitigasi bandara terhadap bencana tsunami dan gempa bumi, sehingga dapat mengubah mindset dan mengajak ikut peran serta dari masyarakat dan mahasiswa terhadap stigma negatif yang berkembang di masyarakat mengenai pembangunan bandara baru ini.

Dalam seminar nasional ini I Nyoman Sukanta, memaparkan tentang riwayat-riwayat gempa bumi dan bencana tsunami yang telah terjadi beberapa tahun yang lalu dan kemungkinan-kemungkinan bencana yang terjadi berdasarkan kajian yang dilakukan oleh tim peneliti dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG). Adapun Gani Wijaya memaparkan bahwa pembangunan bandara New Yogyakarta International Airport sudah menerapkan mitigasi bencana gempa dan tsunami. Pada kesempatan tersebut ia memaparkan beberapa detail perencanaan yang terkait dengan mitigasi bencana. Sementara itu Liza Anindya Rahmadiani lebih membicarakan mengapa bandara baru harus segera dibangun dengan berbagai pertimbangan, terutama pertimbangan kebutuhan jasa penerbangan yang terus meningkat secara signifikan dari waktu ke waktu, serta keterbatasan Bandara Adisucipto Yogyakarta baik dari segi lokasi, maupun terkait dengan aktifitas TNI Angkatan Udara.

Sedangkan Prof. Ir. H. Sarwidi sebagai pakar rekayasa kegempaan memaparkan tentang pandangannya mengenai mitigasi terhadap pembangunan New Yogyakarta International Airport. Ia mengingatkan agar PT. Angkasa Pura II selaku owner bandara NYIA untuk secara ketat mengawasi pembangunan gedung maupun infrastruktur. Hal itu perlu dilakukan dengan tujuan menghindarkan terjadinya banyak korban. Dia juga mengatakan, belajar dari gempa yang sudah pernah terjadi di Yogyakarta 2006 silam, pentingnya bagi kita untuk selalu memperbarui atau menyesuaikan dengan perkembangan teknologi sebagai antisipasi meminimalkan kerusakan. “Jangan terlalu mempercayai kajian-kajian menggunakan data riwayat bencana gempa dan tsunami yang telah terjadi. Seiring dengan gempa yang terjadi di sejumlah wilayah di Indonesia seringkali menimbulkan retakan-retakan baru, inilah yang harus diupdate dalam peta gempa di Indonesia dan disosialisasikan ke masyarakat,” kata Sarwidi.