UTY, IAI dan ICAEW Tingkatkan Kompetensi Akuntan

Direktur Eksekutif IAI, Elly Zarni Husin, Ak, CA., FCMA., CGMA sedang menyampaikan materi di UTY

Universitas Teknologi Yogyakarta (UTY) – Ikatan Akuntan Indonesia (IAI) dan Institute of Chartered Accountants in England and Wales (ICAEW) – Indonesia, bekerjasama menyelenggarakan Workshop bertema “Perkembangan Profesi Akuntansi Terkini & updating PSAK 48: Penurunan Nilai Aset, dan IAS 36 : Investment”.  Acara yang berlangsung di Kampus 1 Universitas Teknologi Yogyakarta (UTY), Sabtu (12/5) tersebut dimaksudkan untuk meningkatkan kompetensi akuntan. Hadir sebagai pembicara pada  acara tersebut, Direktur Eksekutif IAI, Elly Zarni Husin, Ak, CA., FCMA., CGMA., , Direktur Eksekutif ICAEW-Indonesia Denny Poerhadiyanto, MSi, Ak., CA., CPA (Aust), dan Ketua PPAK FEB UGM, Prof. Dr. Slamet Sugiri, MBA., Ak., CA.  

Rektor UTY, Dr. Bambang Moertono Setiawan, MM., Akt., CA memberikan sambutan

Dalam sambutannya, Rektor UTY Dr. Bambang Moertono Setiawan, MM., Akt., CA yang sejak mahasiswa telah aktif berkiprah di Kantor Akuntan Publik, menyampaikan bahwa bekerja di KAP sangat menyenangkan. Selain secara keilmuan akuntansi bisa terus terasah, bekerja di KAP dapat memiliki banyak pengalaman terjun ke banyak perusahaan di berbagai daerah, dengan fasilitas KAP. Dalam kesempatan itu Bambang Moertono mengingatkan bahwa tuntutan jaman akan terus berubah secara cepat seiring dengan adanya revolusi industri 4.0. Termasuk tuntutan perkembangan keilmuan akuntansi dengan adanya tuntutan penggunaan teknologi informasi. Untuk itu iapun mendukung adanya kajian-kajian untuk memberi bekal bagi para akuntan baik akuntan pendidik maupun praktisi sebagaimana yang dilakukan di Kampus UTY tersebut. Iapun berharap jalinan kerjasama antara UTY dengan IAI dan lembaga-lembaga yang terkait dalam profesi akuntansi akan terus berlanjut di masa yang akan datang.

Ketua IAI Wilayah Yogyakarta Dr. Hardo Basuki, M.Soc.Sc, CSA., Ak., CA memberikan sambutan di UTY

Sementara itu, dalam sambutannya Ketua IAI Wilayah Yogyakarta Dr. Hardo Basuki, M.Soc.Sc.,CSA.,Ak.,CA, menceritakan bahwa kalau dulu, saat ia lulus dari jurusan akuntansi UGM langsung mendapat gelar Akt. Namun saat itu belum ada pembinaan semacam PPL  (Pendidikan Profesional Berkelanjutan) guna menjaga dan meningkatkan kompetensi akuntansi setelah lulus. Sehingga, salah satu tugas IAI yang menurutnya penting adalah memberikan bekal dan up-dating kompetensi akuntansi sesuai dengan perkembangan jaman.  Tugas ini menjadi semakin penting di masa pancaroba dengan adanya era industri 4.0. “Pembinaan kompetensi akuntansi ini dari kita, oleh kita dan untuk kita” ungkap Hardo Basuki.  Ia mengingatkan bahwa di era disrupsi teknologi saat ini pengelolaan keuangan bisnis telah berubah dari manual menjadi digital, dan area akuntansi tidak sebatas book keeping saja. “Jaman akan terus berubah secara cepat. Semua profesi harus bisa mengikuti perubahan, termasuk profesi akuntansi” kata Hardo Basuki.  Sehingga ia mengajak para akuntan siap menghadapi tantangan, dan menjadikan profesi akuntan menjadi profesi yang berjaya di masa depan. 

Mengawali presentasinya Elly Zarni, menyampaikan bahwa IAI memiliki beban dan tanggungjawab untuk memastikan bahwa para akuntan anggota IAI memiliki kompetensi akuntansi yang memadai, serta mematuhi standar dan ketentuan profesi akuntan. Di era global ini, IAI juga berperan dalam menyiapkan akuntan yang memiliki kualifikasi berstandar internasional dengan mendorong akuntan mengikuti pelatihan dan memperoleh kualifikasi profesional melalui Chartered Accountant IAI. Sedangkan secara internal di dalam negeri, ia mengingatkan bahwa toleransi dari PMK no 25 tahun 2014 sudah hampir habis. Bahkan sebentar lagi akan ada PMK yang lebih baru lagi, ungkap Elly Zarni.  Sehingga para akuntan yang belum/tidak melaporkan aktifitas/keikutsertaannya dalam up dating kompetensi sesuai yang diamanatkan dalam PMK tersebut, nantinya akan diberikan sangsi, mulai dari teguran sampai dengan dicabutnya keanggotaannya di organisasi IAI.  

Elly Zarni juga menyampaikan bahwa di era digitalisasi pada revolusi industri 4.0 ini telah muncul konsultan-konsultan keuangan, yang sebenarnya bukan dari basic keuangan/akuntansi. Mereka dari orang-orang IT yang mempelajari program-program keuangan. Oleh karena itu ia mendorong para akuntan untuk secara cepat membekali kompetensinya untuk mengikuti perubahan tuntutan dan tantangan jaman khususnya teknologi informasi. Dengan kualifikasi akuntan yang bisa terbukti keandalannya, disertai dengan dukungan legal sebagai Kantor Akuntan Publik, ia yakin perusahaan-perusahaan akan lebih memilih dan lebih trust (percaya) kepada para akuntan publik yang terjaga kompetensinya, serta diatur dengan kode etik dan standar kompetensi yang ditetapkan asosiasi profesi IAI, jelas Elly Zarni.

Sedangkan Deny Poerhadiyanto membawakan materi berjudul “Technological Revolution Accountant Perspective”. Dalam presentasinya ia menyampaikan peluang dan ancaman di era revolusi industri 4.0 ini, khususnya dalam konteks di negara-negara ASEAN. Iapun memaparkan berbagai profesi yang hilang dengan adanya otomatisasi. Di sisi lain ia juga menyampaikan berbagai profesi baru yang muncul saat ini dan mendatang. Menurutnya, banyak tantangan besar bagi akuntan saat ini dan masa depan. Diantaranya adanya transaksi dengan mata uang digital semacam bitcoin, dengan volume transaksi yang sangat besar.  Untuk itu akuntan sangat perlu meningkatkan kemampuan analisis data dan penguasaan teknologi informasi, serta meningkatkan keilmuan bisnis dan akuntansi secara mendalam, jelasnya.