Halal Bi Halal Keluarga Besar UTY

Rektor UTY dan Ketua Dewan Pembina Yayasan Dharma Bhakti IPTEK menerima jabat tangan dariD osen dan Karyawan UTY

Bertempat di Masjid Kampus 1 Universitas Teknologi Yogyakarta, Sabtu 23 Juni 2018, telah diselenggarakan Halal bi Halal bagi seluruh Keluarga Besar UTY. Dalam sambutannya Rektor UTY  Dr. H. Bambang Moertono Setiawan, MM., Akt., CA menyampaikan bahwa  sebagai umat manusia, sudah selayaknya kita berlapang dada, khususnya terhadap sesama, yang sudah barang tentu dalam kehidupan sehari-hari melakukan hal-hal yang membuat kita khilaf, salah dan dosa. Untuk itu di kesempatan yang berbahagia tersebut, ia mengajak keluarga besar UTY untuk membuka hati dengan rasa sabar dan penuh ihlas serta berharap atas ridha Allah, untuk meminta dan memberi maaf atas kesalahan di antara kita semua, baik yang disengaja ataupun tidak disengaja.

Rektor UTY Dr. H. Bambang Moertono Setiawan, MM., Akt., CA memberikan sambutan

Bambang Moertono menyampaikan bahwa salah satu hikmah yang dapat dipetik lewat Halal bi Halal ialah terciptanya ukhuwah dan persaudaraan yang akrab, serta hilangnya rasa sakit hati yang barangkali timbul ada diantara kita. Menurutnya, berjabat tangan yang dilakukan secara ihlas lahir dan batin memiliki makna yang sangat mendalam, sebagai penawar luka hati, hilangnya rasa dendam, serta saling mendoakan.

Pada kesempatan yang berbahagia tersebut, Bambang Moertono juga menginformasikan keberhasilan Ketua Yayasan Dharma Bhakti IPTEK Dr. Hj. Zulhawati, M.M yang telah mendapatkan gelar Profesor. Gelar ini diharapkan dapat bermanfaat bagi kemajuan akademis UTY, lingkungan sekitar dan bangsa Indonesia. 

Ketua Dewan Pembina Yayasan Dharma Bakti IPTEK Drs. H Iskandar Abdurrahman memberikan sambutan

Sementara itu Drs. H Iskandar Abdurrahman Ketua Dewan Pembina YDB IPTEK  menyampaikan bahwa tradisi Halal bi Halal yang berisi saling memaafkan, merupakan tradisi Indonesia, yang dilakukan tidak hanya oleh umat Islam. Kepada dosen karyawan UTY ia berpesan, usai ber-halal bi halal dan berpuasa selanjutnya meningkatkan amal ibadah.  Khususnya bagi  yang beragama Islam ia menganjurkan untuk meningkatkan sholat jamaah di  Masjid. Oleh karena di tiga Kampus UTY telah ada Masjid, maka sebaiknya  kita berjamaah sholat dhuhur dan ashar di Masjid Kampus, ungkapnya.

Sedangkan Sahiron Syamsudin, dalam tausiahnya mengajak untuk mengingat akan fitrah dan fungsi agama menurut Islam. Menurutnya, fungsi dan fitrah yang pertama, adalah agama sebagai petunjuk (hudan) atau way of life.  Ia menyampaikan bahwa ajaran agama merupakan petunjuk bagaimana manusia dalam bersikap, baik bersikap kepada Allah (hamblum minallah), maupun bersikap kepada sesama manusia dan alam semesta (hablum minannas). Mengutip QS Al Baqarah ayat 3 Sahiron menyebutkan, ciri orang yang bertaqwa adalah beriman kepada yang ghaib, mendidirkan sholat, dan membayar zakat. Artinya setelah orang beriman kepada Allah, selanjutnya diikuti dengan menyembah kepada Allah dengan sholat (hablum minallah), kemudian membayar zakat (hablum minannas). Dari ayat ini saja sudah jelas bagaimana Islam memberikan petunjuk dalam  bersikap.  

Fungsi yang kedua, adalah agama sebagai sarana (wasilah) kebahagiaan, di dunia dan akhirat.  Pada kesempatan itu Sahiron menyampaikan hadist Riwayat Bukhori tentang  nasehat Salman kepada Abu Dardak, yang  sangat rajin berpuasa dan rajin sholat malam, namun terkesan tidak mempunyai hajat lagi pada keduniaan dan kurang memperhatikan keluarga.  Iapun mengutip nasehat Salman kepada Abu Darda’ yang telah dipersaudarakan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dengannya, yakni “supaya tidak hanya sibuk ibadah sampai lupa istirahat dan melupakan keluarganya”, agar tercapai kebahagiaan di dunia dan akhirat.

Dari cerita tersebut Sahiron menambahkan bahwa Islam mengatur kehidupan secara ideal, tidak ekstrim ke kanan ataupan ekstrim ke kiri.

Dr. Phil. Sahiron Syamsuddin memberikan tausiah Halal Bi Halal di UTY

Fungs ketiga, adalah agama sebagai pemersatu. Ia mengambil contoh sejarah Piagam Madinah, yang dibuat Nabi Muhammad SAW. Selain membina persaudaraan sesama orang-orang Islam atau ukhuwah Islamiah, Nabi Muhammad SAW juga membina persaudaraan antara sesama umat manusia atau ukhuwah insaniah di kota Madinah, yang penduduknya terdiri dari berbagai suku, ras dan agama, dengan membuat Piagam Madinah. Piagam tersebut diantaranya mengatur persaudaraan umat seagama, persaudaraan sesama umat manusia, pertahanan bersama, dan perlindungan terhadap minoritas.

Oleh karena itu Sahiron menyampaikan bahwa sudah seharusnya kita mencontoh apa yang dilakukan Nabi Muhammad SAW, dengan menjaga keutuhan NKRI. Sehingga menjaga toleransi dan kemajemukan dengan Pancasila merupakan ibadah. Menururtnya, orang yang suka memecah belah jelas bertentangan dengan agama Islam.